Text Box:  Assalamu ‘Alaikum wr. Wb.

Untuk sejenak, marilah kita rendahkan hati serta pikiran kita untuk memohon bimbingan dan petunjuk kepada Allah al-Mujib, kiranya dengan kerendahan hati, serta pikiran yang selalu bersujud kepada-Nya, Allah al-Wadud akan menyiramkan kesejukan dihati kita semua, memberikan kebahagiaan abadi, mengobarkan semangat dahsyatnya energy muhasabah diri, yang pada gilirannya akan meredam segala amarah yang mencengkeram diri kami yang sejatinya terlahir suci/fitrah, merekatkan persaudaraan yang retak karena silaturahim tidak terjaga. Menyatukan kita semua sebagai saudara yang sejatinya bersumber leluhur yang sama.

Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda:

“Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas, menuju seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan”.

Hadits ini berisi permisalan yang sangat agung, yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kerusakan pada diri seorang muslim dengan sebab ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia. Hadits ini mengisyaratkan bahwa orang yang berambisi terhadap harta dan kehormatan (dunia) tidak akan selamat dari keutuhan keislamannya, kecuali sedikit orang yang selamat.

Permisalan yang agung ini mencakup peringatan keras dari bahaya ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia.

Pertama:

Sangat cinta terhadap harta, dan memforsir diri serta berlebih-lebihan dalam mencarinya meskipun dengan jalan yang halal. Walaupun akibat yang timbul dari ambisi terhadap harta hanyalah tersia-sianya waktu dalam hidup ini, padahal memungkinkan bagi manusia untuk memanfaatkan waktu tersebut agar mencapai kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, cukuplah hal tersebut sebagai celaan terhadap perbuatan ambisi terhadap harta.

Kedua:

Mencari harta dari jalan-jalan yang haram dan menahan hak-hak yang wajib ia berikan kepada orang lain.

Ya Allah..!

Hari ini kami berkumpul untuk membicarakan perihal harta dunia, harta yang kami sangat yakini sebagai hak-hak kami.

Tetapi Ya Rab, apakah kami termasuk golongan orang-orang yang sangat cinta terhadap harta duniawi? sehingga memforsir diri serta berlebih-lebihan mengumpulkan harta meski dilakukan dengan jalan halal?

Ataukan kami tergolong orang-orang yang mencari harta dari jalan-jalan yang haram? dengan menahan hak-hak yang wajib diberikan kepada orang lain?

Hindarkan kami Ya Rabbi, hindarkan kami.

Hindarkan kami dari dua golongan itu karena kami yakin dengan firman-Mu, karena kami yakin dengan risalah para utusan-Mu, karena kami yakin dengan ajaran kasih dari para ulama dan orang-orang saleh, bahwa kedua golongan itu adalah golongan orang-orang yang tercela, golongan orang-orang yang Engkau murkai. Jauhkan kami dari celaan dan murka-Mu yang Allah, tolong jauhkan.

Ya Rabbi......

Sadarkan kami bahwa semua yang ada pada diri kami hanyalah titipan semata,

Ingatkan kami bahwa semua yang ada pada diri kami hanyalah titipan semata,

Titipan yang sewaktu waktu Engkau ambil kapan pun dan dimana pun Engkau berkehendak, meski kami belum siap untuk itu.

Jabatan/pekerjaan adalah titipan, sewaktu waktu engkau ambil meskipun kami masih mengharapkan kedudukan itu ada pada kami.

Harta adalah titipan, suatu saat Kau akan ambil tanpa kami bisa prediksi kapan dan bagaimana cara Engkau mengambilnya.

Bahkan yang paling dekat dengan kami, yang paling kami cintai, nyawa kami ya Allah... nyawa kami, nyawa kami juga titipan-Mu.

Nyawa yang paling dekat dan paling kami cintai pun sewaktu-waktu Kau ambil, kapan pun, dimana pun, dalam kondisi apa dan bagaimana pun, tetap akan Kau ambil karena nyawa hanyalah titipan-Mu yang atas izin-Mu sampai saat ini masih ada pada diri kami.

Ya Rabbi............

Sadarkan diri kami bahwa kami semua berasal dari tanah, sadarkan kami bahwa jika nyawa telah Engkau cabut dari diri kami, maka kami akan kembali ke tanah.

Tanah yang membuat kami tergoda untuk melakukan segalanya, sampai-sampai lupa dari mana dan akan kemana setelah nyawa yang Kau titipkan telah Engkau ambil. Tanah yang saat ini, ditempat ini, diruangan ini juga sedang kami bicarakan.

Ya Allah Ya Tuhanku.

Ketika nyawa kami telah Kau ambil, sehingga tinggallah jasad kami yg terbujur kaku, tak punya daya apa-apa, dimasukkan ke dalam tanah, tanah yang luasnya tak lebih dari 1 x 2 meter.

Ya Rabbi, saat jasad kami tak bernyawa lagi, kami tetap butuh tanah yang mengantar kami ke alam kubur, tanah yang luasnya tak perlu diperjuangan seluas mungkin, karena jasad kami hanya butuh 1 x 2 meter.

Ya Rabbi, jadikanlah tanah 1x 2 meter sebagai bagian dari raudatum min raudalil jannah, jadikan kuburan kami kelak menjadi taman dari taman-taman surga. Sehingga kami bisa berbangga, menghadap kepada-Mu sebagai calon-calon penghuni syurga.

Hindarkan kami Ya Allah, jauhkan kami, jauhkan kami dari siksa tanah, jauhkan kami dari siksa kubur yang menghimpit dan meremukkan jasad kami hanya karena ketamakan terhadap tanah ataupun harta lainnya yang pernah Kau titipkan kepada kami.

Saudara-Saudaraku .... renungkanlah!

Renungkanlah wahai saudara-saudaraku.

Bahwa kita masih bersaudara, bersaudara sebagai sesama manusia, bersaudara sebagai sesama Muslim, bahkan bersaudara dari leluhur dan turunan yang sama.

Rekatkan..! rekatkan kembali silaturahim diantara kira, rekatkan kembali tali asih dan asuh diantara kita.

Renungkan saudaraku, bukankah Allah sudah berjanji dalam firman-nya bahwa Setiap yang berjiwa pasti mati? hanya soal waktu saudaraku, hanya soal waktu.

Kematian akan tiba pada setiap diri kita.

Coba kita bayangkan, betapa hebatnya goncangan “Sakaratul-Maut” itu, jika rambut dan kuku saja dicabut terasa sakit? bayangkan bagaimana sakitnya jika yang dicabut itu nyawa? Lalu jasad sudah terbujur kaku? dan yang terbujur kaku itu adalah diri kita? Bayangkan...!

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada saat itu kita masih bisa melihat siapa saja yang menangisi kita.

Kita bisa melihat sahabat yang mentakziahi kita, berkunjung pada kita.

Tapi kita tidak bisa berdaya, tidak bisa bicara, tidak bisa bergerak, lalu mereka memandikan kita..... bayangkan!

Bayangkan itu adalah diri kita, air yang mengguyur tubuh kita, yang selama ini kita mandi sendiri lalu dimandikan, dan kita menyaksikan siapa yang memandikan kita.

Bersyukur kalau yang memandikan adalah anak-anak kita, sementara kita belum mengajarkan anak kita untuk itu. Kemudian kita dikafani, disholati, digotong untuk dibawa kedalam lubang kubur.

Bersyukur kalau yang memandikan adalah saudara-saudara kita, sementara kita belum mampu membuat mereka tersenyum dengan kebaikan kita.

Bersyukur bahwa kita dapat melihat saudara-saudara kita ikut mengkafani, ikut mensholati, ikut menggotong diri kita untuk dibawa ke dalam lubang kubur.

Lalu disana semua saudara saudara terutama dari keturunan yang sama ikut mendoakan kita agar kubur kita menjadi raudatun min raudatil jannah, menjadi taman dari taman-taman syurga.

Pertanyaannya sekarang bagaimana dengan kita?

Siapa yang akan mendoakan kita? siapa yang akan mentakziahi kita? sementara semasa hidup selalu menzalimi orang lain, meskipun itu keluarga sendiri?

Siapa yang bersedih, menangisi dengan kematian kita karena cintanya kepada kita? sementara semasa hidup kitalah membuat mereka menangis?

Siapa pula yang mentakziahi kita? Sementara semasa hidup memutuskan persaudaraan hanya karena harta duniawi yang berada pada orang lain atau saudara lain? Yang diklaim menjadi hak kita padahal belum tentu dalam pandangan Allah?

Saudaraku, mari..... selagi kita masih berkesempatan untuk bermuhasabah diri,

Selagi Allah masih berkenan menitipkan nyawa kepada kita, mari...

Mari kita rekatkan kembali tali persaudaraan diantara kita...

Mari kita saling berjabat tangan kembali...

Mari kita saling berangkulan kembali...

Karena inilah yang diinginkan leluhur kita, orang tua, kakek nenek kita.

Mereka meninggalkan sedikit harta agar membawa kebaikan kepada keturunannya.

Jangan buat mereka menagis dan menyesal, telah bersusah payah mengumpulkan harta yang justru membuat persaudaraan dan tali asih keturunannya menjadi retak.

Jangan dengarkan bisikan orang-orang yang tak senang dengan kebersamaan kita, Jangan..!

Mari menjabat tangan saudara kita, tak perlu harus didatangi, kitalah yang lebih dahulu mendatangi mereka.

Jabat tangannya, rangkul mereka dengan penuh kasih.

Tak perlu sungkan karena mereka adalah saudara kita juga, dari keturunan yang satu.

Jangan sungkan...!

Jangan sungkan karena itulah modal kita untuk kelak menghadap kepada Tuhan, dengan penuh senyum bahagia sebagai Penghuni Syurga.

 

Jika pun masih ada sekat diantara kita, hilangkan!

Jika pun masih ada persoalan diantara kita, selesaikan secara bijaksana!

Cari jalan agar semua kembali bahagia!

Cari jalan agar semua kembali satu!

Cari jalan agar orang tua kita dialam sana tersenyum bangga kepada kita,

Mereka dengan bangga berkata:

“Lihatlah, mereka semua adalah keturunanku, mereka saling berbagi cinta dan kasih diantara sesama keturunanku.. lihat mereka, mereka adalah keturunan ............ kebanggaan keluarga, dan saya bangga dengan mereka”

Allahu Akbar …!

Detik ini kita masih hidup, kita belum wafat, berarti Allah SWT sangat sayang kepada kita, Allah SWT memberi kesempatan kepada kita untuk bertaubat. Allah SWT memberi kesempatan kepada kita untuk menjalin kembali tali silaturahin diantara keturunan ...........................

Inilah saatnya, saatnya kita bertaubat, saatnya berjanji untuk taat, saatnya untuk tidak lagi melakukan kemaksiatan dan kedzaliman, saatnya kita rendah diri dihadapan Allah, rendah hati pada makhluk Allah, tidak tamak kepada kemilau dunia.

Saatnya kita membahagiakan keluarga kita, saudara kita, orang tua kita, suami kita, istri kita, anak kita, cucu kita.

Keutuhan, kebahagiaan, persaudaraan anak cucu kita kelak, berada ditangan kita.

 

Ende 16 Nopember 2016

Dari bilik kamar Mess Eltari Kab. Ende Pukul 00:48 saat malam menyelimuti penghuni alam yang lelap dalam tidurnya, tulisan ini mengalir laksana air dari mata air 1000 sumber, atas izin Allah SWT. 

* Dibacakan saat pelaksanaan aanmaning untuk perkara warisan yang selama puluhan tahun gagal eksekusi dan menimbulkan banyak korban.

Pilih Bahasa

Indonesian Arabic English German Japanese Portuguese Spanish

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Link Pengadilan

Link Silaturahim

 

 

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Pengunjung

000015335
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Lalu
Bulan Ini
Minggu Lalu
Semua
23
442
476
14736
952
1063
15335

Your IP: 54.227.6.156
Server Time: 2018-01-23 05:33:38

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Developed in conjunction with Ext-Joom.com