)-->
Welcome to Amirullah Arsyad Anak Gunung Perak Sinjai   Click to listen highlighted text! Welcome to Amirullah Arsyad Anak Gunung Perak Sinjai Powered By GSpeech

Lama berkutat dengan bahasanya si Om Pascal sampai-sampai tak terbersit niat sedikit pun tuk beralih ke lain hati? Cieeeee... Preet! Ha Ha Haa...! Jadi orang setia kadang bikin sakit hati apalagi setia yang tidak pada tempatnya, itu kata teman saya gans.

Tapi ini kan masalah ilmu broo bukan roman percintaan, makanya klo ogah melirik ilmu lain bakal terlindas zaman, begitu kata opa Pramoedya Ananta Toer sang inspirasiku. Setidaknya itu yang saya rasakan sekarang.

Disaat peralihan penggunaan aplikasi administrasi perkara pengadilan dari Siadpa Plus ke era SIPP, dari aplikasi genre desktop ke system website. Mau tidak mau, suka tidak suka harus beralih pula aplikasi pemograman yang ,. Menurut saya celotehan delphi7 yang sudah mulai akrab denganku bukannya ketinggalan zaman dan tidak bisa support aplikasi berbasis web. Buktinya APP Kelimutu yang berbasis desktop juga terkoneksi dengan SIPP yang berbasis website. Persoalannya adalah SIPP di pengadilan-pengadilan tuh lebih banyak di operasikan di centos milik linux. Dinilah masalahnya karena sependek pengetahuan saya delphi7 belum support ke sana, inilah masalahnya. Ada sih generasinya dari embarcadero tapi yang katanya support tapi coba punya coba belum bisa juga menyesuaikan dengan keinginan SIPP. Tapi ini bukan salahnya generasi delphi lho, ini karena memang pengetahuan saya yang belum bisa menjangkau. Daripada repot sendiri kenapa tidak mencoba belajar bahasa tetangga saja yang memang lebih support aplikasi berbasi website?

Masuk pertengahan Februari 2019 aku mulai melirik-lirik tetangga yang berbahasa PHP, JS, HTML dan bahasa sejenisnya. Hasilnya? Tetap saja pusing saudara-saudari sekalian. Gak ngerti bahasanya, maksud apa. Berbeda dengan delphi7 yang perancangannya langsung diperlihatkan visualisasi bagan aplikasi, sementara PHP dan saudaranya tuh kita hanya dihadapkan dengan koding koding, yang vidualisasinya hanya bisa dilihat melalui browsing url.

Setelah seminggu lamanya baca baca artikel yang sebagian diantara hanya menyesatkan akal pikiranku, kahirnya satu dua kata bahasa PHP sudah ngerti, syukurlah banyak aplikasi ciptaan para master peradilan yang dishare di group sosmed  sehingga dengan mengobrak abrik jeroan aplikasi, istilah-islilahnya pun mulai familiar.

Agans aganita sekalian, begitulah awal perkenalanku dengan JS, PHP dan lainnya hingga memasuki pekan terakhir bulan Februari 2019, bermodal tekad dan sedikit nekad, dirancanglah aplikasi Siantri (Sistem Antrian Real Time) berbasis web. Logika perancangannya mengacu pada SARIPA (antrian desktop dari Delphi7) walau hasilnya beda jauh dengan Saripa karena memang harus menyesuaikan kebutuhan. Terlanjur basah, mumpun lagi semangat untuk belajar maka aplikasi antrian yang dirancang bukan hanya untuk antrian sidang, tetapi juga menjangkau antrian PTSP (pelayanan terpadu satu pintu), dan beberapa kebutuhan antrian lainnya.

Hasilnya? taraaaaaaa....! kacau gans! hahahahaha.!

Kenapa? akibat mempelajari JavaSript, PHP dan HTML diwaktu bersamaan dan mengaplikasikannya dalam rancangan program secara bersamaan pula, jadinya bahasanya campur aduk. Tak cuma bahasanya, penyimpanan file-file juga tidak rapi.

Tak apalah yang penting kan hasilnya? dan inilah hasilnya agans aganita yang budiman.

Meski masih dalam tahap ujicoba (karena perangkat yang tersedia di satker terbatas), tapi saat diuji publik ternyata banyak yang berminat untuk makai. Katanya sih! tapi dalam pandangan saya dong cuma mu coba coba (paling ero'na ji kapang lancoba cobai ).

Sayang seribu sayang meski ada yang minta upload link downloadnya di FB namun saya belum bisa tunjukkan, dan hanya melayani yang japri ke saya.

Bukan kikir gans! tapi ada pertimbangan juga.

Pertama untuk menghargai karya teman-teman lain punya aplikasi serupa apalagi jika yang bersangkutan berstatus honorer, anda pasti ngerti maksud saya.

Kedua satker saya belum totalitas dalam menggunakan aplikasinya, jika satker lain mendahului apa kata dunia.

Ketiga sebenarnya sudah dishare via otoritas yang lebih tinggi, saya fikir akan disebar jika memang layak untuk disebarkan ke satker-satker yang membutuhkan, dan beberapa pertimbangan lainnya.
Wal hasil selama ini saya hanya melayani contumer yang japri via WA dan messenger.

Cukup yah cerpennya hahahaha. bagi agans aganita yang minat silahkan download DI SINI dan tutorialnya DISINI

Ada kendala? chat di akun FB Amrul Arsyad, WA 081343621677

Eh ingat hak cipta dilindungi undang-undang yah!

Ende | amrul-arsyad.com

Setelah sukses me-launching aplikasi antrian sidang yang terlahir bernama Saripa (hehehe), kini generasi pelanjutnya sudah siap dirilis (sssst rahasia yah! sebetulnya sudah dalam persiapan launching, ingat ra ha si ya…!! Cukup Allah, saya, dan pembaca budiman yang tau wkwkwkwkw…!!).

Sudah lama muncul keinginan untuk merevisi aplikasi Saripa, namun apa daya waktu dan kemampuan jualah yang  tak cukup untuk ber-delphi-ria lagi. Banyak faktor yang  --bisa dijadikan alasan-- menghambat keinginan tersebut.

Pertama: mutasi nun jauh ke pulau seberang tepatnya di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur secara yurisdiksi masuk dalam wilayah PTA Kupang atau PTA Nusa Tenggara Timur --yang sejujurnya melenceng daeri impian karena maunya kembali ke bumi Sulawesi Selatan setidaknya Sulawesi Barat (hahaha ngarep)--yang mengharuskan aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru, suasana baru, rekan kerja yang baru, nyari penampungan baru (curhat hakim dirantau yang minim fasilitas hehehe)  yang tentunya secara psikologis memengaruhi kreatifitasku (untuk sementara ces).

Register to read more...

SARIPA atau System Antrian Sidang Pengadilan Agama. Mahakarya teranyarku yang dibuat dipenghujung tahun 2015. Berawal dari minat mengikuti lomba inovasi yang diadakan oleh Mahkamah Agung RI dengan diikuti seluruh pengadilan dalam lingkup Mahkamah Agung. Banyak ide kreatif yang muncul di kepala ketika membaca pengumuman lomba inovasi tersebut. Namun sadar dengan kemampuan, akhirnya terfikirkan bahwa saat ini untukku lomba inovasi belum waktunya dijadikan ajang meraih prestasi, tapi bagiku saat itu lomba tersebut tak lebih sebagai pelecut semangat --dengan medeadline diri-- untuk menciptakan 'sesuatu' yang bisa dirasakan manfaatnya minimal oleh satker tempatku mengabdi, Pengadilan Agama Bitung. Artinya tak menang pun tak apa bahkan tak ikut lomba pun tak apa, asalkan karyaku bisa memberi manfaat untuk kemajuan instansiku dan tentunya bisa selesai dibuat sebelum batas waktu penerimaan hasil inovasi.

Baca juga SARIPA Versi 2.0 Segera Dirilis

Lalu terbersitlah keinginan untuk membuat aplikasi antrian sidang. Memang system antrian sidang di pengadilan khususnya peradilan agama bukanlah sesuatu yang baru. Misal saja system antrian sidang buatan gan Huda yang sangat fenomenal dan melambungkan nama namanya serta PA Jombang ke seantero penjurur negeri, atau aplikasi milik PA Bondowoso dan lainnya, tapi karena sulitnya (faktor dana) untuk mendapatkan aplikasi tersebut --dengan dana pribadi-- secara utuh, ditambah komunikasiku yang belum terjalin baik dengan si embah penciptanya, maka ku fikir tak ada salahnya untuk menciptakan aplikasi system antrian sidang sendiri. Bukan perkara mudah sebetulnya, karena keterbatasan pengetahuan bahasa program, dan hanya mengandalkan mahaguru Mbah Google, akhirnya terciptalah aplikasi yang ku beri nama SARIPA, diambil dari nama Panitera PA Bitung Dra. Saripa yang terkenal gigih membangun pengadilan berbasis teknologi . SARIPA sendiri singkatan dari System Antrian Sidang Pengadilan Agama. Dalam pembuatannya saya memakai Dhelpi7 dengan bahasa pascal-nya. Hasilnya lumayan, selain mudah dalam hal pengoperasiannya, SARIPA juga bisa digunakan untuk memantau situasi pengunjung atau pihak berperkara yang sedang mengantri diluar sidang bahkan bisa men-take gambar bila dibutuhkan. Tak lupa tentunya terintegrasi dengan database aplikasi Siadpa. Yang istimewa karena SARIPA tidak menggunakan database mentahan dari Siadpa untuk menampilkan data perkara sebagaimana karya fenomenal dan menginspirasi dari gan Huda, namun cukup mengambil bagian khusus dengan menyiapkan halaman url semisal jadwal sidang dari portal infoperkara badilag. Tadinya terlalu miskin kreasi tapi kenapa jadi istimewa? Dengan kebijakan Sekretaris MARI Nurhadi, yang mengharuskan semua satker beralih ke SIPP tak membuat SARIPA mati suri karena tak bisa menampilkan database dari Siadpa lagi, sebaliknya aplikasi SARIPA tetap dapat dijalankan dengan normal cukup dengan mengganti URL --sesuai kebutuhan-- secara copy paste, langsung diaplikasinya tanpa harus opname ulang. Sempurna? Tentu tidak. Aplikasi ini tetaplah sederhana sesederhana dan terbatas seperti penciptanya. Yang pasti aplikasi ini masih tersedia dalam versi 1.0.1 atau versi perdana dan akan diupayakan untuk disempurnakan dengan memperbaharui lewat versi berikutnya. (NB. Aplikasi ini bukan untuk dikomersilkan, namun tetap izin jika minat untuk menggunakannya)

Berikut previewnya

 Tampilan muka dengan tombol panggilan untuk masuk ruang sidang

Kamera untuk memantau antrian diluar sidang, dengan menambahkan kamera luar yang terhubung dengan server

I

Monitor terbagi 2 layar, Kanan diperuntukkan untuk pencari keadilan untuk memantau jadwalnya untuk disidang, kiri TV untuk hiburan bagi pengunjung

I

Tombol Antrian

Halaman Copyright

Pilih Bahasa

Indonesian Arabic English German Japanese Portuguese Spanish

Link Pengadilan

Link Silaturahim

 

 

)-->

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Pengunjung

000084392
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Lalu
Bulan Ini
Minggu Lalu
Semua
146
350
496
81911
4706
7506
84392

Your IP: 35.175.120.59
Server Time: 2019-08-19 04:51:13
)-->

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech