Permataku Yang Hilang, Sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata

Novel ini sebetulnya bagian dari ambisiku untuk pertama kalinya --jauh sebelum ide menulis buku Mahir Membuat Putusan Yang Argumentatif yang telah diterbitkan Lecture-- menghasilkan karya tulis yang tercetak dalam bentuk buku, bukan sekedar artikel di media cetak atau online sebagaimana yang sebelumnya ku lakukan. Terbersit keinginan yang kuat agar karyaku bisa menjadi bagian dari koleksi buku di Roul's Library milikku. Bukan perkara mudah karena rasanya bakat menulis tidak aku miliki.

Modal nekad aku mulai menuliskan kata demi kata hingga terangkai dalam kalimat, akhirnya tanpa kusadari dan diluar perkiraan, dalam waktu beberapa menit telah ada 20-an lembar tulisan yang berhasil kubuat. Sayang akhirnya faktor kesibukan jualah yang memecah konsentrasiku hingga tulisanku terkendala cukup lama. Satu tahunan vakum aku mulai melanjutkan proyek tulisan, ternyata berat juga karena ide yang muncul dikepala saat itu telah buyar dan aku harus meciptakan imajinasi yang baru, susah namun aku tak patah arang. Lalu kutemukan pil penambah semangat tanpa sengaja, pil tersebut bernama Dahsyat Writing! 7 jurus menulis ala otak kanan, karya penulis berbakat yang bertekad menulis buku 1001 sebelum ajal menjemputnya, ust. Abdul Hakim al-Hamidy.

Hasilnya tumbuh semangat menggebu-gebu untuk menyelesaikan tulisanku yang sejatinya muncul dan dimulai sebagai karya tulis perdana namun 'nasib' menjadikannya lahir menjadi karya tulisku yang ketiga.

Alur Cerita

Novel itu kuberi nama Pertamaku Yang Hilang, sesuai judulnya novel ini mengisahkan pencarian cinta pemuda, suatu hari tanpa sengaja pandangannya terbentur pada sosok gadis yang juga seorang santri sama dengan dirinya di sebuah pondok pesantren, dan telah membuat hatinya penuh kebahagiaan seperti mendapat hadiah permata yang puluhan tahun diidam-idamkan. Sayang ditengah usahanya meraih simpati sang gadis, dia harus menerima kenyataan pahit bahwa gadis pujaan harus pindah sekolah. Sejak itu dia tak lagi mengetahui dimana sang pujaan hati berada.

Luar biasanya patah hati karena kehilangan pujaan hati malah membuat sang pemuda gigih meraih sukses. Kehilangan dijadikan pelecut semangat meraih mimpi yang lain, meski jatuh bangun meraih cita namun akhirnya sukses.

10 tahun berlalu dalam pertemuan yang tidak disengaja, dia kembali bertemu dengan pujaan di kawasan wisata pantai Kota Makassar.

Tak banyak yang bisa ku gambarkan tentang cerita dalam novel ini, bagaimanapun saat ini masih tahap editing, namun sebagai bocoran cerita ini merupakan kisah nyata dan ceritanya pun tanpa tambahan 'bumbu penyedap' untuk membuat wow! semuanya digambarkan utuh sesuai alur cerita sesungguhnya.

Latar belakang cerita dilakukan di salah satu pondok pesantren ternama di Indonesia, tepatnya di Barru.

Siapa pemuda itu? bagaimana kisah perjuangannya meraih cita dan cinta? Siapa pula gadis impian?

Sabar sobat budiman, dilain waktu setelah semua rampung di penerbit/percetakan, insya allah akan saya share di amrul-arsyad.com. Mohon doa agar semua berjalan lancar dan sukses, amin.

Atau minat mau jadikan koleksi? boleh saja.

Vahaardkha Joe diambil dari kata Parakajoe, sebuah kata yang menunjuk nama satu kampung kecil di timur daya bukit Tonrong-e, Kampus II Putra DDI Mangkoso, Barru.

Parakajoe menjadi saksi lika liku perjalanan hidup salah seorang anak manusia yang jauh terpisah dari keluarga, jatuh bangun mengejar impian sebagai santri putera di pesantren ternama dan terbesar se Indonesia Timur. Siapakah anak tersebut? Apa hikmah yang bisa dipetik dari kisahnya? semua terangkum dalam buku Vahaadkha Joe.

Buku ini adalah karya teranyarku setelah sukses dengan karya fenomenal Mahir Membuat Tulisan Yang Argumentatif.

"Ceritanya mengalir, mengalir hingga ke dalam jiwa membuatku larut dalam kisahnya seaka diriku aktor dari kisah itu sendiri... lembar demi lembar ku baca buku ini, hingga tak terasa air mataku pun mengalir, merasakan haru yang sangat dalam akan perjuangan sosok pemuda yang bermimpi merai cita, dalam segala keterbatasan" Faried Wadjedi, SH., MH (Aktivis LSM)

 

Putusan merupakan mahkota hakim dan inti dari mahkota itu adalah pertimbangan hukumnya, maka seyogyanya putusan hakim terutama pertimbangan hukumnya harus mencerminkan nilai keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum yang terangkum dalam konstatir, kualifisir dan konstituir putusan. Putusan hakim yang dibuat berdasarkan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah bentuk pertanggungjawaban hakim atas tugas dan tanggung jawab mengadili suatu perkara. Pertanggungjawabannya terutama kepada Tuhan, lalu kepada pencari keadilan dan tentunya kepada masyarakat, oleh karena itu putusan yang baik adalah putusan yang berargumentatif atau mempunyai argument yang tinggi. Dalam arti konkrit bahwa seorang hakim tanpa perlu menjelaskan isi dan maksud putusannya, namun cukup dengan membaca putusannya maka orang lain bahkan orang awam tanpa pemahaman hukum sekalipun mengerti dan faham sejelas-jelasnya isi kandungan putusan dan maksud yang terkandung didalamnya. Semua itu hanya dimungkinkan jika putusan berargumentatif dengan disertai estetika penyusunan yang baik (tahsiniah). Putusan berargumentatif bukan hanya dasar hukumnya yang kuat tetapi juga ditentukan oleh tahsiniahnya.

Minat memiliki? hubungi disini

 

Pilih Bahasa

Indonesian Arabic English German Japanese Portuguese Spanish

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Link Pengadilan

Link Silaturahim

 

 

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Pengunjung

000013823
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Lalu
Bulan Ini
Minggu Lalu
Semua
19
28
223
13389
503
1235
13823

Your IP: 54.91.171.137
Server Time: 2017-12-17 11:40:30

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Developed in conjunction with Ext-Joom.com