)-->
Welcome to Amirullah Arsyad Anak Gunung Perak Sinjai   Click to listen highlighted text! Welcome to Amirullah Arsyad Anak Gunung Perak Sinjai Powered By GSpeech

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Seminggu berlalu sejak aku mengantar istri dan puteraku Fayyadh kembali ke Majene, rasa kangen kembali menderaku, sangat! Masih lama anakku.... masih lama... kurang lebih lima bulan ke depan tepatnya di bulan ramadhan aku akan menjemputmu, dan kita akan bersama lagi. Bermain tenda-tendaan dengan sarung dan selimut, mengejar bola karet di rerumputan pekarangan rumah dinas Pengadilan Agama Bitung, kejar-kejaran disela ombak di pantai Girian Bawah, bermain istana pasir di Kasawari, berenang dengan bebek air di Batu Nona Resort Kema III, seperti yang kita lakukan 3 bulan ini, selama Fayyadh berada di Bitung.

Seperti biasa aku kembali menjalani hari-hariku di Bitung, kerja di kantor melayani pencari keadilan, berkutat dengan berkas perkara yang menumpuk di meja, pulang kerja langsung belanja di pasar sendirian untuk dimasak sendiri dan dimakan sendiri pula. Sendiri, tanpa istri yang setia mendampingi dan memanjakanku dengan aneka makanan dan cemilan yang selalu tersedia di meja. Sunyi tanpa celoteh dikau putera kesayanganku yang selalu menjemputku di depan pintu.

Rasa kangen memaksaku untuk meraih ponsel, lalu jariku yang kata orang 'jempol semua' ini mulai menari di layar Samsung A5, mencari nomor ponsel berakhiran 1194. Tak lama suara yang ku rindukan sudah kedengaran dari sana. "Assalamu papa"

"Alaikum salam nak! ade bikin apa?"

"Main-main...."

"Ade main sama siapa?"

"Dengan Fitty-Kiya"

"Dengan siapa juga..?"

.....

Anakku sudah cerewet diajak ngobrol, ada-ada yang ditanyakan kepadaku, tanyakan mobil-mobilannya mana, bola kesayangannya mana, dan sebagainya. Yang pasti bicara dengan anakku via telpon cukup mengobati rasa rinduku padanya.

Sebaliknya apa saja aku tanyakan, mengajaknya ngobrol meski tanpa judul dan tema khusus, mendengar suaranya, hanya sekedar memastikan dirinya baik-baik saja.

Namun, pembicaraan dengan anakku terhenti tatkala dia berkata "....papaaa! gendong!" bantinku membuncah, tak kuasa aku menahan tetesan butiran air hangat yang menetes dari kedua sudut mataku.

"Sabar nak! ayahmu masih kerja, mencari nafkah untukmu dan ibumu" hiburku kemudian, padahal saat itu aku sendiri hanyut dalam kerinduan yang tak bisa kulukiskan dalam tulisan ini.

Diseberang sana tak lagi ku dengar suara anakku menanyakan kabarku, menanyakan mainannya, menanyakan apa saja yang diingatnya. hanya.... hanya suara isak tangisnya yang terdengar sayup lewat speaker hp. Serta suara istriku yang berusaha menghibur dan menenangkan Fayyadh. Aku tak kuasa lagi membendung kesedihanku, sedih terpisah jauh dengan putera kesayanganku.

Dengan suara lirih ku minta istriku untuk mematikan HP sembari menghibur anakku, agar sejenak lupa dengan ayahnya. Sementara aku bersembunyi dibawah selimut, bersama tangisanku, tangisan kerinduan.

Kapan? kapan aku bisa berkarir dikampung halaman sendiri? agar bisa dekat dengan anak dan istri, dekat dengan ayahku, satu-satunya orang tuaku yang masih hidup? dekat dengan handai taulan?

Pertanyaanku tak terjawab karena aku sudah larut dalam tidurku, selamat malam dunia.

Pilih Bahasa

Indonesian Arabic English German Japanese Portuguese Spanish

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Link Pengadilan

Link Silaturahim

 

 

)-->

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Pengunjung

000027431
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Lalu
Bulan Ini
Minggu Lalu
Semua
42
102
247
26695
1126
1038
27431

Your IP: 54.224.56.126
Server Time: 2018-10-23 11:22:29
)-->

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech