Sinjai terkenal sebagai daerah penghasil ikan laut terbesar di Sulawesi Selatan.  Trade mark ini tak disia-siakan masyarakat pesisir, khususnya di area Pusat Pendaratan Ikan (PPI) dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lappa.  Warga di sekitar  PPI/TPI menyiapkan Warung Makan, dengan menu khas ikan bakar. Puluhan Warung Makan Ikan Bakar Segar ini berjejer dan mengundang selera makan.

Yang menarik, Warung Makan ini hanya menyiapkan nasi kuning atau nasi putih dan sambalnya. Ikan dibeli sendiri oleh pengunjung, dari  pedagang ikan atau nelayan yang baru saja berlabuh di pelataran TPI, berukuran sekira  350 kali 100 meter persegi itu.  Pasti saja ikan yang dijejer rapi di pelataran ini adalah ikan segar, dengan aneka pilihan

Read more: Nikmatnya Kuliner (Ikan Bakar) di Lappa

Sebuah legenda beredar dari kaki Gunung Karampuang, Kabupaten Sinjai,  Sulswesi Selatan. Legenda tentang seorang manusia sakti bernama To Manurung yang turun dari langit dan memberikan sejumlah pesan dan pengetahuan baru bagi warga desa: tentang tatanan hidup sederhana dan pentingnya kebersamaan. Pengetahuan itu hingga kini masih ditaati para pengikutnya yang hidup mengucilkan diri di sebuah desa adat yang disebut Karampuang. 

 

Desa yang terletak sekitar 31 kilometer dari pusat Kota Sinjai ini, memang mencerminkan suatu desa tradisional yang ketat memegang teguh amanah para leluhur. Konon, asal kata dari Karampuang tersebut diambil dari kata Karaeng dan Puang. Penamaan ini akibat dijadikannya lokasi itu sebagai pertemuan antara Kerajaan Gowa (Karaeng) dan Kerajaan Bone (Puang). Dalam legenda Karampuang juga dikisahkan bahwa asal mula adanya daratan di Sinjai berawal dari Karampuang. Dahulu daerah ini adalah wilayah lautan sehingga yang muncul ke permukaan adalah beberapa daerah saja, termasuk Karampuang. Yang muncul itu dinamakan cimbolo, yakni daratan yang timbul seperti tempurung di atas permukaan air. Di puncak cimbolo muncul To Manurung yang akhirnya digelar Manurung Karampulue (seseorang yang karena kehadirannya menjadikan bulu kuduk berdiri).

Dengan lokasi terpencil di tengah bukit berbatu, Karampuang menjadi daerah yang jarang dijamah pengaruh luar. Tak heran, kondisi seperti ini juga menyebabkan warga tak pernah berniat mengubah tatanan yang sudah ada dengan arus perkembangan begitu cepat di luar desa mereka. Tradisi lama masih mereka pegang. Tatanan baru tak mengubah tatanan lama dan kehidupan yang penuh kesederhanaan tak pernah mereka tinggalkan. Karampuang adalah sebuah desa adat yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen sebuah kerajaan. Ada raja, perdana menteri, dan beberapa menteri. Karampuang dipimpin seorang Pamatoa yang berfungsi sebagai raja, Panggela sebagai Perdana Menteri, Sangro atau dukun sebagai menteri kesehatan dan kesejahteraan. Kemudian ada Guru yang bertindak sebagai menteri pendidikan dan keagamaan.

Read more: Legenda Karampuang Sinjai, Sulsel

Pilih Bahasa

Indonesian Arabic English German Japanese Portuguese Spanish

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Link Pengadilan

Link Silaturahim

 

 

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Pengunjung

000024334
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Lalu
Bulan Ini
Minggu Lalu
Semua
41
22
202
23848
643
1287
24334

Your IP: 54.225.57.230
Server Time: 2018-08-15 22:20:42

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Developed in conjunction with Ext-Joom.com