Pengrajin besi atau pandai besi selalu identik dengan kaum adam. Tapi di Dusun Puncak, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat, Sulawesi Selatan hal ini tidak berlaku. Mayoritas penduduk yang dijuluki kampung pandai besi tersebut adalah kaum hawa.

Kisah yang langka ini membuat penulis tertarik untuk menjelajahinya. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat jam dari Makassar, akhirnya tiba juga di desa tersebut. Rasa penat bisa terbayar tunai setelah menyaksikan pemandangan alam di kampung yang terletak tepat di kaki Gunung Bawakaraeng ini.

Alam terbuka yang masih alami, hingga warga yang lalu lalang layaknya kehidupan di desa tetap terjaga rapih di tempat ini. Sawah-sawah terpampang begitu juga orang-orang yang beraktifitas di tempat itu. Awalnya penulis cukup menikmati suasana ini, sebelum akhirnya terdengar dentuman palu beradu dengan besi, beberapa meter dari rumah warga.

Dentuman itu juga hal biasa disini, dan itulah keunikan tempat ini. Suara bising itu adalah sumber kehidupan sebagian warga desa. Setelah berjalan beberapa meter, saya tiba di sebuah rumah yang dari jauh sudah terdengar kebisingannya. Hal pertama yang terlihat adalah seorang perempuan yang menggenggam palu berukuran besar. Bahkan lebih besar dari ukuran tangannya.

Dengan posisi jongkok dan

Read more: Perempuan Pandai Besi dari Sinjai

SINJAI- Satu lagi objek wisata Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan yang dimiliki saat ini yakni setelah gugusan Pulau Sembilan.

Destinasi wisata baru Sinjai itu adalah Kawasan Hutan Mangrove Tongke-tongke yang terletak di Kecamatan Sinjai Timur.

Nah, sebelum Anda mengunjungi ada baiknya melihat gambar ini yangdiambil oleh Tim Tribun Celebes Eksplore melalui drone. Hutan mangrove Tongke-tongke resmi dibuka Oktober tahun lalu untuk masyarak umum oleh pihak warga setempat.

Rencananya pihak Pemerintah Kabupaten Sinjai akan membantu warga untuk mengelola destinasi wisata baru di Sinjai itu.

" Insya Allah dalam waktu dekat ini Pemkab Sinjai akan kelola objek wisata ini bersama dengan warga di Tongke-tongke," kata Kepala Bagian Kepariwisataa Sinjai Dewi Angriani, Senin (25/4/2016).

 

Membicarakan Sinjai seakan tak pernah habis objek wistanya yang cukup menarik untuk dikunjungi. (Sumber: tribun-timur.com)

Letaknya berada di bagian selatan jazirah provinsi Sulawesi Selatan, kabupaten ini juga berada di kaki sebuah gunung bernama Bawakaraeng. Kabupaten Sinjai memang mempesona bila di jadikan salah satu lokasi tujuan wisata di Sulawesi Selatan. 

Selain rumah purbakala Karampuang, Taman purbakala Batu Pake Gojeng’serta kuburan tua Caropo, kabupaten yang dulunya merupakan pusat pemerintahan dari sekaligus 2 kerajaan ini (Kerajaan Tellulimpo dan Kerajaan Pituelimpo) juga memiliki panorama kepulauan yang tak kalah indah nya dengan destinasi wisata lain nya di Nusantara.

Sembilan pulau yang berukuran besar dan kecil dan membentuk gugusan kepulauan bernama Pulau Sembilan’ adalah salah satu kekayaan alam kabupaten Sinjai yang sayang untuk di lewatkan. Pulau-pulau ini bisa di kunjungi via pelabuhan Lappa. 

Sebuah pelabuhan tradisional yang berjarak 15 menit waktu tempuh dari pusat kota Sinjai. Jarak Pulau Sembilan dan pelabuhan Lappa tak lebih dari 10 Mil, namun selain sebagai titik awal penyeberangan menuju Pulau Sembilan, pelabuhan ini merupakan pelabuhan yang menarik untuk dinikmati. Terlebih di waktu malam. Dermaga yang ada di pelabuhan ini adalah tempat bersandar kapal-kapal nelayan pencari ikan. Harga sewa untuk perahu kayu adalah 300 ribu rupiah*. Waktu tempuh paling cepat untuk menuju ke pulau akan memakan waktu tak lebih dari 60 menit dengan perahu Kayu dan 20 Menit untuk Speedboat. 

Keindahan Pulau Sembilan bukan hanya dari jejeran pulau-pulau yang berbaris dari selatan ke utara, namun sisi keindahan yang sebenarnya berada di dasar laut sekitar pulau - pulau tersebut, untuk anda yang punya hobby menyelam, tentu momen seperti ini tidak akan terlewatkan, karena di dasar laut pulau-pulau sembilan terdapat Terumbu Karang yang begitu indah dan sayang untuk dilewatkan.

Nah anda berminat untuk menikmati keindahan Alam Sinjai, kami yakin anda akan merasakan suasana yang berbeda ketika berada di Sinjai, dari sisi tradisional hingga wisata modern adalah pilihan yang komplit ketika anda mengunjungi Kabupaten Sinjai.

 

(Sumber: http://sinjaikab.go.id)

KEINDAHAN PESISIR WISATA KONVEKSI HUTAN BAKAU TONGKE-TONGKE

Menikmati panorama alam di Kabupaten Sinjai, tidak langkap rasanya jika kita berpelesiran kearah utara Sinjai saja. Dibagian timur laut Kabupaten Sinjai jejeran dan rimbunan hutan bakau yang tertata alami, pesisir laut Tongke-Tongke menampakkan keindahan panorama alam serta ribuan kelelawar yang bergelantungan pada tiap bulan April sampai pada bulan September mengikuti musim adaptasi lingkungan spesies binatang  tersebut. Berkunjung ke obyek wisata hutan bakau Tongke-Tongke yang terletak di Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai, sekitar 7 km dari pusat kota Sinjai dengan menggunakan transportasi darat, dan sekitar 5 menit menggunakan transportasi laut. Field Work Program (FWP) dalam hal ini kerja sama dengan tim dari JICA dan AUSAID yang mengadakan penelitian konvensi hutan bakau yang tak luput karena didominasi wilayah pesisir yang sangat mempesona. Dan tatkala tim ini menyempatkan dirinya untuk bersantai lebih lama menyatu dengan alam. Pada tahun 1993 Kabupaten Sinjai dalam pengembangan dan penghijauan pesisir, melalui Pak Tayeb salah seorang penanaman bakau mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto, karena atas kerja keras dan keuletannya menyelamatkan biota laut dan keaneka ragaman hayati yang tersimpan rapi dipesisiran Tongke-Tongke, memancing para pihak peneliti bahkan investor luar untuk memberikan asumsi dan kerja sama pengelolaan dengan melihat keadaan marfologi laut yang diikuti sumber daya alam kepariwisataan. Sehingga sampai sekarang kawasan mangrove ini dijadikan sebagai kunjungan wisatawan yang terbukti banyak di minati oleh kalangan mancanegara. Desa Tongke-Tongke dengan kekayaan hutan bakaunya lebih dikenal dengan laboratorium bakau Sulawesi Selatan dimana pengembangan Sulawesi Selatan sebagai tempat pengembangan hutan bakau yang memiliki luas areal 786 Ha, yang dikembangkan dengan swadaya dan budidaya masyarakat secara murni. Sebuah jalan kayu yang telah permanent sepanjang 250 m dengan fasilitas shelter serta villa terapung dalam kawasan yang telah menjadi momok utama dalam pengembangan kepariwisataan sebagai bukti animo masyarakat melalui pemerintah untuk bersinergi dalam mengelolah asset wisata tersebut. Disamping itu, masyarakat setempat dan pemerintah telah menyediakan sarana transportasi laut yang bersandar dipesisir dalam hutan bakau yang mana dipersiapkan bagi wisatawan mancanegara ataupun lokal untuk lebih menikmati keindahan hutan bakau dari luar dan biota laut serta keanekaragaman hayati yang menyatu dengan alam hutan bakau. Dari sektor perkebunan dan perikanan juga telah memfasilitasi sebuah sanggar tani yang dijadikan sebagai pusat pelatihan bakau dan aktifitas para sanggar tani wanita yang lebih berorientasi pada pemeliharaan bakau dan pengembangan disektor perikanan.

Menikmati sisi pengembangan kepariwisataan kedepan. Dengan melihat keadaan luas arel bakau, animo wisatawan mengharapkan adaya wisata boga yang bisa dijadikan sebagai sarana makan minum bagi mereka. Tradisional dan penyatuan dengan alam adalah sebuah motivasi bagi mereka ingin menikmati secara familiar dan natural apakah melalui dengan pesona malam hari atau alternatif wisata yang lain. Fasilitas alternative lain seperti keinginan untuk menyelam (diving) atau menikmati suguhan ikan bakar diatas biota bakau diwadahi oleh sarana villa terapung didalam kawasan ini. Sebuah desain pengembangan lebih mengacuh pada pengembangan wisata pesisir adalah hal yang tepat untuk hal ini. Sebagian lahan yang belum terkelola sepenuhnya bisa menjadi obyek pengelolaan lanjutan dengan mengacu pada kebutuhan para wisatawan. Mereka terlalu penak dengan keadaan perkotaan ataukah ribuan penak dalam kantor didepan komputer dan berbagai pekerjaan yang menuntut untuk segera diselesaikan, seketika ingin merasakan sentuhan alam dengan suguhan alam wisata bakau ini mampu mengobati kepenatan walaupun dalam sehari.

Sebuah desain pengembangan kepriwisataan sudah tentu mengacu pada keinginan wisatawan. Pengelolaan asset wisata hutan bakau Tongke-Tongke sampai sekarang hanya sebagian lahan yang dipergunakan, namun kondisi ini didasari dengan acuan pengembangan hutan bakau yang mana proses pengelolaanya tidak merusak kadar kondisi alami hutan bakau tersebut. Disepanjang pasisir bakau memiliki daya tarik dan pesona tersendiri yang belum dikelola secara keseluruhan; dan membutikan potensi bakau yang belum terjamah yang mampu untuk dikembangkan dalam prospek pengembangan pariwisata kedepan. Selama tidak mengganggu kelestarian taman hutan, pengadaan sarana peristirahatan dan sarana diving (menyelam) adalah prospek utama kepariwisataan, wisatawan tidak hanya ingin menikmati suguhan yang semi permanen, namun mereka pun termotivasi datang untuk lebih mengenal dan merasakan alam bawah laut. Menyelam bagi wisatawan mancanegara hal yang biasa, namun meyelam dibawah pesisiran hutan bakau dengan penyatuan biota laut adalah hal yang luar biasa. 

Nakmura, seorang wisatawan mancanegara sekaligus peneliti dibidang pengembangan masyarakat pesisir dan humans relations, mengharapkan adanya suatu desain yang permanen yang menggambarkan tentang site plan, yang mana pengelolaannya berbentuk investasi dan kepariwisataan. Pemerintah Kabupaten Sinjai diharapkan sebagai wadah pengelola bagi investor kedepan.

Potensi yang tehampar dihadapan kita adalah sebuah nilai natural yang tinggi untuk dikelolah. Pemerintah dan masyarakat telah bersinergi untuk mengembangkan secara berkelanjutan, sisa waktu menunggu investasi untuk melanjutkan dan mengembangkannya kedepan, yang sudah tentulah ada keterbatasan dana untuk pengelolaanya jika kita terus mengharap kepada pemerintah. Upaya pelestarian hidup hutan bakau yang selama ini dijadikan sebagai tumpuan masyarakat setempat untuk melangsungkan proses usaha ekonomi mereka dari rantai biota laut sehingga perkembangan tambak mereka pun meningkat, namun dengan adanya sektor kepariwisataan telah mampu menambah ekonomi kerakyatan bagi masyarakat setempat dan menjadikan suatu bahan ekpos kedepan dengan potensi wilayah mereka yang eksotis dibandingkan dengan potensi daerah lain. Itulah yang tertuju dalam sadar wisata dan visi kepariwisataan abad 21.

 (Sumber: http://www.sinjaikab.go.id)

Sinjai membuat gebrakan. Daerah yang sebelumnya dikenal sebagai wilayah agraris dan maritim kini tampil beda. Sinjai menjadi penghasil susu sapi yang kemudian dikenal dengan istilah Susin (susu sinjai). Pengembangan sapi perah di Kabupaten Sinjai dimulai pada 2001. Saat itu pemerintah pusat mengalokasikan enam ekor sapi perah ke Sulawesi Selatan. Bantuan itu ditempatkan di Kabupaten Sinjai sebagai uji coba. Sapi perah dipelihara oleh Kelompok Batuleppa, Desa Gunung Perak Kecamatan Sinjai Barat. Uji coba ternyata menjadi penyemangat bagi petani lain di daerah ini. Pengalaman memelihara enam ekor sapi perah percobaan membuat animo masyarakat semakin tinggi untuk memelihara sapi perah. 

Rudiyanto menangkap animo masyarakat itu. Ia mendorong pengembangan sapi perah di Kabupaten ini. Tahun 2004 susu yang dihasilkan oleh masyarakat diolah menjadi susu pasteurisasi. Susu hasil olahan itu kemudian diberi merk dagang Susin, Susu Sinjai. Saat itulah Susin mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas. Pengenalan tak hanya dilakukan melalui ajang pameran, tetapi juga dengan menyelenggarakan lomba minum susu. Penyelenggaraan lomba tak sebatas di wilayah Sinjai, tapi sampai di Makassar dan kota-kota lainnya. Susin kemudian dikemas dalam bentuk gelas 150 cc dengan dua macam rasa: coklat dan strawberry. Susin sebagai produksi sapi perah akhirnya tidak hanya dikenal di Sulawesi Selatan, tetapi juga banyak provinsi lain di Indonesia. 

Susu ini bisa langsung dikonsumsi karena telah melalui proses pasteurisasi. untuk menjadikannya go internasional , Produk Susin diluncurkan di Mall GTC, Tanjung Bunga, Makassar, Minggu (20/5). Acara perkenalan susu tersebut dirangkaikan dengan lomba minum Susin yang diikuti anak-anak TK dan SD. Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa dan Istrinya, dr. Felicitas Asapa M.Kes hadir dalam acara itu. Keduanya juga mencicipi susu yang dibuat aneka rasa seperti cokelat, strawbery, vanila, dan susu putih.

Tahun 2011, produk susu sapi perah masyarakat Sinjai memperoleh penghargaan dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan Adikarya Pangan Nusantara Tahun 2011 itu diterima oleh Ketua Koperasi Susu Sintari, Sinjai Barat. Susin merupakan produk susu olahan pasteurisasi yang pertama di Indonesia Timur. Oleh karena itu, tidak keliru bila disebut Susin sebagai pionir pengembangan sapi perah di Kawasan Indonesia Timur.

Tak Hanya itu saja yang bisa kita nikmati ketika berada di Bumi Panrita Kitta Sinjai, selain olahan pabrik seperti susin tadi, anda juga bisa merasakan racikan tradisional khas Sinjai, minuman yang satu ini memang tidak sepopuler SUSIN akan tetapi minuman inipun sering menjadi komsumsi masyarakat di luar Sinjai, nama minuman ini adalah MINAS (Minuman Khas Sinjai).

Minuman ini dibuat sebagai pengganti minuman keras. Masyarakat Sinjai yang sebagian besar nelayan, memerlukan minuman penghangat badan, maka lahirlah minuman khas Sinjai yang biasa disebut minas (minuman asli Sinjai). Minuman ini juga memiliki khasiat memulihkan dan menambah tenaga setelah lelah bekerja. Pembuatan minuman minas ini tidak sulit. Bahan dasar yang diperlukan untuk membuat sepuluh botol minas dibutuhkan sekitar 15 kilogram tape singkong. Selain itu juga ditambah susu, telor, air kelapa, madu, sedikit tuak, buah durian dan buah-buahan lainnya. Aroma minuman ini mengikuti musim. Bila sedang musim durian, maka aroma buah durian sangat terasa di minuman ini. Semua bahan kemudian dicampur dan dihancurkan dengan blender kemudian didinginkan di dalam freezer kulkas.  Kini minuman siap dikonsumsi. Agar dapat dibawa, minuman khas Sinjai ini dikemas ke dalam botol plastik.

Nah, bila Anda berkunjung ke Kota Sinjai, tidak ada salahnya mencicipi minuman ini sambil makan ikan bakar. Karena minuman ini hanya ada disini, tidak tersedia di kota lain selain di Sinjai.

(Sumber: http://www.sinjaikab.go.id)

Pilih Bahasa

Indonesian Arabic English German Japanese Portuguese Spanish

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Link Pengadilan

Link Silaturahim

 

 

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Pengunjung

000013817
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Lalu
Bulan Ini
Minggu Lalu
Semua
13
28
217
13389
497
1235
13817

Your IP: 54.91.171.137
Server Time: 2017-12-17 11:37:47

Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Developed in conjunction with Ext-Joom.com